Angin musim dingin di Luxembourg City hari ini menembus sampai ke tulang rusuk, tapi kehangatan di dalam kelas 3 SD tempatku mengajar membuat segalanya terasa lumer. Melihat anak-anak bermata biru, cokelat, dan hijau itu memanggilku “Madame Cristina” dengan aksen Prancis-Jerman yang kental, rasanya seperti mimpi yang terlalu jauh untuk seorang gadis yang dulunya hanya berlarian di jalanan berdebu di Jawa.
Banyak orang melihat angka Rp1,6 Miliar itu dan langsung berdecak kagum. “Enak banget, Cris!” kata mereka. “Kerja santai, gaji pejabat.”
Mereka tidak melihat malam-malam panjang di mana aku menangis sendirian di apartemen sempit seukuran kotak sepatu saat awal kedatanganku ke Eropa.
Perjuanganku sampai di titik ini berdarah-darah. Luksemburg bukan negara yang ramah bagi pendatang tanpa skill bahasa dewa. Di sini, untuk menjadi guru sekolah dasar negeri, kamu tidak cukup hanya pintar bahasa Inggris. Kamu harus menguasai tiga bahasa sekaligus: Prancis, Jerman, dan Luksemburgish.
Tiga tahun pertamaku adalah neraka.
Aku ingat betul rasanya ditolak puluhan sekolah. “Kualifikasi Anda belum cukup,” kata mereka berulang kali. Sambil mengejar penyetaraan ijazah dan sertifikasi yang susahnya minta ampun, aku bekerja serabutan. Mulai dari baby sitter sampai pelayan restoran yang kakinya bengkak setiap pulang kerja.
Aku tidur hanya 4 jam sehari. Sisanya? Belajar tata bahasa Jerman sampai kepala rasanya mau pecah, lalu lanjut menghafal kosa kata Prancis, sambil menahan lapar karena harga roti di sini mahalnya gila-gilaan buat kantong mahasiswa perantauan. Ada masa di mana aku hampir menyerah, ingin pulang saja ke Indonesia, makan nasi goreng abang-abang, dan melupakan ambisi gila ini.
Tapi, Tuhan itu adil. Usaha tidak pernah mengkhianati hasil.
Saat surat penerimaan itu datang, tangan aku gemetar. Aku resmi menjadi pengajar di sistem pendidikan negara dengan gaji guru tertinggi di dunia. Saat slip gaji pertamaku turun—setara ratusan juta rupiah per bulan jika dikurskan—aku tidak berteriak senang. Aku justru terdiam.
Aku menatap angka itu, lalu air mataku jatuh. Bukan karena bahagia, tapi karena rasa bersalah yang menusuk dada.
Pikiranku melayang pulang ke Indonesia.
Aku teringat Pak Budi, guru honorerku dulu di SD. Beliau yang mengajarkanku membaca, yang sepedanya sering rantainya putus saat ke sekolah. Gajinya? Mungkin 300 ribu atau 500 ribu rupiah sebulan. Dibayar rapel tiga bulan sekali.
Aku teringat teman-teman kuliahku di jurusan pendidikan di Indonesia. Mereka orang-orang cerdas, penuh semangat, dan tulus mencintai anak-anak. Tapi sekarang? Mereka harus nyambi jualan pulsa, jadi ojek online, atau buka jasa ketik skripsi hanya untuk menyambung hidup. Gaji mereka sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa” bahkan seringkali lebih rendah dari uang jajan anak sekolah yang mereka ajar.
Di Luksemburg, guru adalah profesi yang sangat dihormati, setara dengan hakim atau dokter spesialis. Pemerintah di sini paham betul: Jika kamu ingin masa depan negara cerah, kamu harus memuliakan orang yang mendidik masa depan itu. Makanya, mereka tidak segan menggaji kami miliaran rupiah per tahun.
Sementara di tanah airku?
Rasanya miris. Hatiku sakit setiap kali melihat berita guru di pedalaman yang harus menyeberang sungai deras demi mengajar, tapi di akhir bulan hanya menerima amplop tipis yang isinya cuma cukup buat beli beras seminggu.
Gaji Rp1,6 Miliar ini memang mengubah hidupku. Aku bisa mengirim uang untuk orang tua, merenovasi rumah di kampung, dan travelling keliling Eropa. Tapi jauh di lubuk hatiku, ada doa yang selalu kuselipkan.
Aku berharap suatu hari nanti, Indonesia bisa memandang guru-gurunya seperti Luksemburg memandang kami. Bukan hanya dipuja dengan slogan “Pahlawan”, tapi dimuliakan hidupnya, dicukupi kebutuhannya, dan dihargai keringatnya.
Karena aku tahu, di luar sana, ada ribuan “Cristina” lain yang berjuang di ruang kelas yang panas dan bocor, dengan perut yang mungkin setengah lapar, tapi tetap tersenyum demi anak-anak bangsa. Mereka layak mendapatkan lebih dari sekadar ucapan terima kasih.



