KODE: NARKO-SULSEL-001
MAKASSAR — Rehabilitasi narkoba bukan sekadar proses membawa seseorang keluar dari ketergantungan. Ada tahap yang tidak kalah penting setelah program rehabilitasi selesai, yaitu bagaimana seseorang dapat kembali menjalani kehidupan bersama keluarga dan masyarakat tanpa kembali terjerumus.
Pertanyaan ini semakin penting di Sulawesi Selatan. Pada 22 Juni 2026, Pemerintah Kota Makassar bersama Balai Rehabilitasi BNN Baddoka membahas penguatan pemantauan dan pendampingan pascarehabilitasi. Dalam pertemuan tersebut disampaikan bahwa masih ditemukan sejumlah klien yang setelah menyelesaikan program rehabilitasi kembali menggunakan narkotika.
Persoalannya kemudian bukan hanya bagaimana seseorang mendapatkan rehabilitasi, tetapi juga apa yang terjadi setelah ia pulang?
Rehabilitasi Narkoba Bukan Akhir dari Pemulihan
Dalam Pasal 54 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, ditegaskan bahwa pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.
Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa penanganan persoalan narkotika tidak hanya berbicara tentang penindakan. Ada pula aspek pemulihan yang harus mendapatkan perhatian.
Namun, pemulihan seseorang tidak selalu berhenti ketika program rehabilitasi selesai.
BNN pada 2026 juga menekankan penguatan rehabilitasi berkelanjutan, dengan perhatian pada keterpulihan, kemandirian, serta kemampuan seseorang untuk kembali menjalankan fungsi sosialnya di tengah masyarakat.
Tantangan Bisa Muncul Ketika Kembali ke Lingkungan
Setelah menjalani rehabilitasi, seseorang akan kembali berhadapan dengan lingkungan kehidupan sehari-hari.
Di sinilah dukungan keluarga dan lingkungan menjadi penting.
Pergaulan lama, tekanan hidup, persoalan pekerjaan, konflik keluarga, lingkungan yang kurang mendukung, maupun stigma sosial dapat menjadi tantangan dalam mempertahankan proses pemulihan.
Karena itu, keluarga sebaiknya tidak menganggap bahwa persoalan telah selesai hanya karena seseorang sudah keluar dari tempat rehabilitasi.
Pemulihan membutuhkan kesinambungan.
Keluarga Perlu Tegas, tetapi Tetap Merangkul
Menolak narkotika tidak berarti harus menolak orang yang sedang berusaha pulih.
Keluarga tetap perlu memiliki sikap tegas terhadap penyalahgunaan narkotika, tetapi pada saat yang sama memberikan ruang yang sehat bagi anggota keluarga untuk memperbaiki kehidupannya.
Komunikasi yang baik, perhatian terhadap perubahan perilaku, kegiatan yang produktif dan lingkungan sosial yang positif dapat menjadi bagian dari dukungan tersebut.
Tujuannya bukan memberikan pembenaran terhadap penyalahgunaan narkotika, melainkan membantu agar proses pemulihan tidak berhenti di tengah jalan.
Makassar Mulai Memperkuat Pengawasan Pascarehabilitasi
Perhatian terhadap fase setelah rehabilitasi bukan sekadar wacana.
Pemerintah Kota Makassar dan BNN Baddoka pada Juni 2026 membahas rencana membangun kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat pengawasan dan pendampingan pascarehabilitasi. Langkah tersebut diarahkan untuk mencegah penyalahgunaan berulang serta memperkuat perlindungan bagi masyarakat.
Sebelumnya, BNN Sulawesi Selatan juga membuka layanan rehabilitasi narkoba secara gratis dan mengembangkan layanan keliling yang menjangkau wilayah pinggiran Makassar, Maros hingga Pangkep.
Ini menunjukkan bahwa persoalan narkotika membutuhkan pendekatan yang lebih luas: pencegahan, rehabilitasi, pemulihan dan pendampingan perlu berjalan bersama.
Masyarakat Tidak Perlu Menunggu Persoalan Menjadi Berat
Keluarga yang mulai melihat adanya persoalan penyalahgunaan narkotika sebaiknya tidak menunggu keadaan menjadi semakin berat.
Langkah pertama adalah mencari informasi yang benar.
Jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan stigma, ketakutan atau informasi yang belum jelas. Setiap kondisi dapat memiliki persoalan dan kebutuhan penanganan yang berbeda.
Karena itu, masyarakat perlu mengetahui tempat dan pihak yang dapat memberikan informasi secara tepat.
BNM dan Ruang Edukasi Masyarakat
Brantas Narkotika Maksiat (BNM) Sulsel dapat mengambil ruang dalam pencegahan melalui edukasi masyarakat, penguatan keluarga dan penyebaran informasi yang mudah dipahami.
Pendekatan tersebut penting karena pemberantasan narkotika bukan hanya pekerjaan aparat.
Keluarga, sekolah, tokoh agama, organisasi masyarakat, pemuda dan komunitas juga dapat mengambil bagian dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi generasi muda.
Sahabat BNM
Bagi masyarakat yang membutuhkan informasi awal mengenai pencegahan penyalahgunaan narkotika, Sahabat BNM membuka ruang komunikasi melalui WhatsApp.
👉 KLIK DI SINI UNTUK CHAT SAHABAT BNM
Memutus Rantai Narkotika Dimulai dari Pemulihan
Penindakan terhadap jaringan peredaran narkotika tetap penting.
Namun, upaya tersebut akan semakin kuat jika berjalan bersama pencegahan dan pemulihan.
Menindak peredaran gelap berarti memutus jaringan.
Mencegah penyalahgunaan berarti mencegah lahirnya korban baru.
Mendukung seseorang yang sedang menjalani pemulihan berarti memberikan kesempatan untuk menyelamatkan satu manusia, satu keluarga dan masa depan generasi.
Karena itu, rehabilitasi bukan garis akhir.
Setelah seseorang pulang, masih ada keluarga yang perlu mendampingi, lingkungan yang perlu menerima, dan masyarakat yang perlu ikut menjaga.
Pada akhirnya, memutus rantai narkotika bukan hanya tentang menghentikan peredarannya, tetapi juga memastikan mereka yang ingin pulih memiliki kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan yang lebih baik.
Tolak narkotikanya. Rangkul manusianya. Selamatkan generasinya.








